Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label peta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peta. Tampilkan semua postingan
Peta rahasia VOC dari tahun 1719: Selat Sunda

Peta rahasia VOC dari tahun 1719: Selat Sunda

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1719
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Para peta umumnya terfokus pada pulau, atau kepulauan. Dokumen ini menjadi menarik karena memetakan sebuah selat, tepatnya Selat Sunda antara Jawa dan Sumatera. Peta navigasi ini berharga karena menjadi salah satu kunci kendali atas jalur laut yang penting ini. Tidak mengherankan apabila VOC menyimpan peta ini sebagai berkas rahasia dan tidak mempublikasikannya.
Juru kartografi: keluarga Van Keulen
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1773: Nusantara

Peta kuno dari tahun 1773: Nusantara

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1773
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini menampilkan wilayah Indonesia dengan proporsi dan kontur yang lumayan, terlepas dari Papua yang saat itu memang belum banyak terjelajahi. Wilayah yang kaya rempah-rempah ditampilkan khusus di pojok kiri bawah dengan skala yang lebih besar. Peta ini juga dilengkapi dengan arah angin monsun dengan informasi mengenai bulan terkait dengan arah angin ini.
Juru kartografi: M. Bonne
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1640: Ternate, Tidore, dan sekitarnya

Peta kuno dari tahun 1640: Ternate, Tidore, dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1640
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini menampilkan pulau-pulau penghasil rempah-rempah di sebelah barat Halmahera (di sini disebut pulau Gilolo, Jailolo). Peta ini menampilkan utara di sebelah kanan, sehingga pulau-pulau ini berderet mendatar di bagian tengah: Makian (Machian), Moti (Motir yang tampaknya keliru disebut juga Timor), Mare (Potterackers), Tidore (Tidoro), dan Ternate. Pulau Bacan (Bachian) yang seharusnya berada di sebelah kiri Makian, ditampilkan tersendiri di bagian atas.
Juru kartografi: Willem and Joan Blaeu
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta militer Inggris dari tahun 1811: Jawa dan Madura

Peta militer Inggris dari tahun 1811: Jawa dan Madura

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)


Tahun terbit: 1811
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Invasi Inggris ke Jawa di tahun 1811 adalah bagian dari sejarah Indonesia yang relatif kurang dikenal, dan orang Indonesia umumnya merasa bahwa negeri ini dijajah oleh Belanda tanpa interupsi hingga Jepang menyerbu di tahun 1942. Terlepas dari catatan di atas, peta ini adalah dokumen militer yang berasal dari masa penyerbuan Inggris ke Jawa ini. Peta ini cukup menarik karena membagi wilayah Jawa dan Madura dalam beberapa kawasan yang barangkali dari sudut pandang sekarang bisa mencengangkan; misalnya

  • adanya kawasan Jampang di selatan Jawa Barat
  • wilayah Cirebon saat itu meluas ke selatan hingga mendekati Cilacap
  • wilayah Jawa Tengah tersekat-sekat dalam banyak kawasan
  • Mataram yang dulunya mendominasi Jawa meninggalkan sisa wilayah di selatan Jawa
  • adanya nama-nama besar saat itu yang kemudian harus mundur mempersilakan nama lain untuk tampil seperti Jipang, Kertosono, Sedayu, Wirosobo, Bagelen, Sukapura, Ciasem, serta Batulayan.

Juru kartografi: John Stockdale
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1747: Jakarta antara Angke dan Ancol

Peta kuno dari tahun 1747: Jakarta antara Angke dan Ancol

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1747
Tempat terbit: Den Haag
Tokoh:
Deskripsi: Berbeda dengan peta-peta lain yang umumnya terfokus ke pusat keramaian, peta ini menampilkan wilayah yang cenderung sepi, saat itu. Peta yang mencampurkan bahasa Belanda dan Perancis ini memperlihatkan Jakarta di pertengahan abad ke-18 antara Angke dan Ancol. Kita a.l. bisa baca banyak cannes des sucres (perkebunan tebu), champ de ris (pesawahan), dan jardins (kebun), di samping perkampungan orang Ambon (quartier des Ambones) dan Jawa (quartier des Javans). Nama-nama yang kelak menjadi kawasan utama seperti Noordwyk (kelak Pintu Air), Ryswyk (kelak Jalan Gajah Mada), dan Jacatra (saat itu sebuah benteng) tampak seperti tertutup oleh area pesawahan dan perkebunan tebu.
Juru kartografi: J. van Schley
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1676: Letak Nusantara di Asia

Peta kuno dari tahun 1676: Letak Nusantara di Asia

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1676
Tempat terbit: London
Tokoh:
Deskripsi: Ini adalah peta yang cukup terkenal hasil olahan John Speed, yang menampilkan benua Asia yang diapit "Samudra Timur" (sekarang Samudra Hindia) dan "Samudra Barat" (sekarang Samudra Pasifik). Wilayah Nusantara tergambarkan dengan cukup lumayan meskipun Pulau Seram tampak sangat besar, dan pesisir timur Kalimantan dan Sulawesi tampak belum terjelajahi. Yang menarik, John Speed membuat sketsa tentang 10 bangsa-bangsa Asia dalam pakaian khasnya, menurut bayangan atau pemahaman orang Inggris saat itu. Tiga dari sepuluh gambar ini ternyata berasal dari Nusantara: a Svmatran (orang Sumatera), a Iavan (orang Jawa), dan a Molvccan (orang Maluku).
Juru kartografi: John Speed
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1724: Banda dan sekitarnya (tak berwarna)

Peta kuno dari tahun 1724: Banda dan sekitarnya (tak berwarna)

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1724
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Ini merupakan versi "tidak berwarna" dari peta yang pernah dimuat di posting ini sebelumnya. Peta ini menampilkan Pulau Run, Ai, Banda, Neira, Bandaneira, dan Hatta/Rozengain.
Juru kartografi: dicuplik dari karya François Valentijn
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1724/1726: Bali

Peta kuno dari tahun 1724/1726: Bali

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1724/1726
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Bali ketika masih digambarkan seperti sebuah hair dryer. Berbeda dengan peta-peta sebelumnya yang mencantumkan lokasi istana-istana raja, peta ini memuat nama-nama tempat yang tampaknya sudah dijelajahi bangsa Belanda saat itu yang umumnya nama-nama di sekitar pesisir, bukan pedalaman. Kita a.l. bisa baca nama Bulungan (salah posisi), Tabanan, Kuta, serta Gi(li)anyar.
Juru kartografi: Gerard Onder de Linden / Joannes van Bram
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1750: Sumatera

Peta kuno dari tahun 1750: Sumatera

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta berumur hampir 300 tahun ini menampilkan tempat-tempat utama di Sumatera dengan cukup terperinci. Penyusun peta saat itu hanya mengenal Kesultanan Aceh (Roy d'Achem) sementara kota-kota lain dimuat tanpa dikaitkan dengan kesultanan/kerajaan mana pun, misalnya: Padang, Manincabo (Minangkabau), Priaman (Pariaman), Bancoul (Bengkulu), Palimban (Palembang), atau Jambi; serta pulau-pulau seperti Banca (Bangka), Lingen (Lingga), atau Nias.
Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta dari tahun 1910: Maluku dan Papua

Peta dari tahun 1910: Maluku dan Papua

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1910
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Ini merupakan bagian dari rangkaian peta Hindia-Belanda yang diterbitkan di tahun 1910. Sebelumnya blog ini sudah memuat peta Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, serta Sulawesi dari rangkaian peta modern ini. Jawa dan Sumatera akan menyusul.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1598: Nusantara bagian barat (versi tak berwarna)

Peta kuno dari tahun 1598: Nusantara bagian barat (versi tak berwarna)

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1598
Tempat terbit: Frankfurt
Tokoh:
Deskripsi: Peta yang disusun 3 tahun sebelum VOC berdiri ini dikabarkan menjadi salah satu dokumen yang digunakan organisasi dagang ini di dalam menjelajahi wilayah Nusantara, yang berujung pada penjajahan ratusan tahun wilayah Nusantara di bawah kekuasaan bangsa Belanda. Peta ini terutama memperlihatkan Samatra (Sumatera), Iauva (Jawa), serta Borneo (Kalimantan). Menarik untuk dicatat bahwa wilayah selatan Jawa saat itu belum terjelajahi, kemudian bahwa di Kalimantan hanya dikenal satu sungai besar yang bermuara di tiga tempat di selatan, juga bahwa Sumbawa dianggap sangat besar sementara Bali lumayan kecil, dan bahwa Makassar merupakan sebuah pulau di Laut Jawa.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Ini merupakan versi "tak berwarna" dari peta yang dimuat di posting ini sebelumnya.


Peta kuno dari tahun 1680: Hindia Timur

Peta kuno dari tahun 1680: Hindia Timur

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1680
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta navigasi dengan utara di sebelah kiri ini cukup memperlihatkan wilayah yang disebut Oost Indien (Hindia Timur) secara komprehensif, terutama mengingat bahwa peta ini dibuat masih di abad ke-17. Kontur wilayah Nusantara sudah mendekati proporsi yang sesungguhnya, meski di beberapa wilayah, misalnya bagian utara Sulawesi dan terutama Papua, informasi geografinya terlihat masih kurang. Peta ini tapi cukup jujur untuk memperlihatkan bahwa bagian selatan Australia masih belum terpetakan, begitu juga kaitan antara Papua dengan Australia.
Juru kartografi: Pieter Goos
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1811: Teluk Kupang

Peta kuno dari tahun 1811: Teluk Kupang

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1811
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Perancis mengirimkan sebuah tim ekspedisi laut di tahun 1800-1803 di bawah pimpinan kapten Thomas Baudin dengan tujuan mendirikan wilayah jajahan di Australia. Louis Freycinet, yang menyusun peta di atas, merupakan bagian dari tim ini. Peta ini dikeluarkan beberapa tahun setelah ekspedisi ini selesai; dan Australia tetap menjadi wilayah yang dikuasai bangsa Inggris, hingga sekarang.
Juru kartografi: Louis Freycinet
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1638: Ternate, Tidore, dan sekitarnya

Peta kuno dari tahun 1638: Ternate, Tidore, dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1638
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini juga memuat pulau-pulau penghasil rempah-rempah yang berada di sebelah barat Halmahera (di sini disebut pulau Gilolo, Jailolo). Di peta ini utara menghadap ke kanan, sehingga pulau-pulau ini berderet mendatar di bagian tengah: Bacan (Bachian), Makian (Machian), Moti (Motir yang tampaknya keliru disebut juga Timor), Mare (Potterackers), Tidore (Tidoro), dan Ternate.
Juru kartografi: Johannes Janssonius
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1724
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini terdiri dari 7 lembaran terpisah yang harus dirangkaikan untuk mendapat pandangan penuh atas Pulau Jawa. Tiap lembaran diberi judul dengan menyebut nama wilayah yang dianggap dominan saat itu:
  1. Bantam (Banten)
  2. Jakatra (Jakarta), yang juga memuat wilayah Bandong (Bandung), Sidammer (Cidamar), dan Tikondang (Cikondang)
  3. Tsjeribon (Cirebon), yang juga a.l. memuat wilayah Karawang, Priangan, Sammadang (Sumedang), Soekapoera (Sukapura), dan Tsiassem (Ciasem)
  4. Mataram, yang juga a.l. memuat wilayah Bagaleen (Bagelen) dan Baanjoe Maas (Banyumas)
  5. Kadoewang, Panaraga yang juga memuat wilayah Madion (Madiun)
  6. Madura, Passaroewan, Soerabaja yang juga memuat wilayah Cadiri (Kediri), Gressic (Gresik), Loedaia, Poegar, dan Singasari
  7. Balamboang (Blambangan) yang juga memuat wilayah Panaroekan (Panarukan).
Juru kartografi: François Valentijn
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1790
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi: Peta dalam bahasa Jerman ini memperlihatkan wilayah "perkotaan" yang didirikan Belanda di Jakarta di abad ke-18. Utara diperlihatkan di sebelah kiri, karena itu kita lihat Kali Krukut melintas mendatar di tengah peta dari arah kanan menuju ke pelabuhan Sunda Kelapa. Di bagian kiri kita lihat Kastil Batavia dengan empat sudut runcingnya, sementara di sebelah kanan dan bawahnya kita lihat pembagian "kota" saat itu. Kita baca a.l. adanya area untuk warga asal Maluku (k - Bandaische Vierthel), untuk orang asal India (l - Malabarische Vierthel), tempat aktivitas warga Tionghoa (s - Zimerhof der Chinesen), di samping adanya gereja (m), balai kota (n), rumah sakit (o), dan pasar ikan (x).
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: ~1633
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini memperlihatkan Asia termasuk Cina, India, Jepang, dan Korea. Wilayah Nusantara digambarkan dengan banyak sekali pulau, termasuk yang sekarang masuk negara Filipina. Kontur umum wilayah Nusantara sudah tertangkap oleh peta ini, meski Kalimantan dan terutama Sulawesi masih belum tuntas pemetaannya, dan Papua masih belum masuk sama sekali. Jawa, Halmahera, dan Seram tampak terlalu besar proporsinya; tapi ini menandakan banyak dibicarakannya ketiga pulau ini saat itu di Eropa.
Juru kartografi: Willem Janszoon Blaeu
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1724: Banda dan sekitarnya

Peta kuno dari tahun 1724: Banda dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1724
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini menampilkan Pulau Naira dipenuhi oleh Gunung Banda Api lengkap dengan asap dan letusannya, objek alam yang memang menjadi kekhasan pulau ini. Pulau lain yang ditampilkan sama dengan yang biasa muncul ketika bangsa Eropa membuat peta tentang Banda, yaitu Run, Ai, Bandaneira, Banda sendiri, dan Hatta/Rozengain.
Juru kartografi: dicuplik dari karya François Valentijn
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1750: Bali

Peta kuno dari tahun 1750: Bali

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi: Peta "terbalik" ini didasarkan pada karya Theodore De Bry yang terbit jauh sebelumnya. Sama dengan peta lain dengan sumber yang sama, peta ini dihiasi dengan gambar tentang Palais du Roy (istana raja) serta menempatkan tiga istana raja di dalam petanya. Yang menarik dari peta ini, Bali disebut sebagai petite Java (Jawa Kecil), suatu julukan yang barangkali menggambarkan banyaknya kemiripan antara Bali dan Jawa saat itu.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


Peta kuno dari tahun 1724: Ambon

Peta kuno dari tahun 1724: Ambon

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1724
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Ini adalah peta Ambon yang mendasari peta lain tentang pulau ini yang muncul berikutnya, termasuk dalam penentuan arah mata angin. Peta ini membagi Ambon dalam 2 wilayah: Hitoe di "atas", dan Leytimor di "bawah". Peta ini dilengkapi juga dengan bagan tentang Benteng Victoria yang dibangun orang Portugis di tahun 1575.
Juru kartografi: François Valentijn
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia